JT.COM – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan generasi muda agar terus mengembangkan keterampilan baru seiring perubahan cepat dunia kerja. Anak muda yang bertahan pada kemampuan lama dinilai berisiko kehilangan peluang kerja dan tersisih dari persaingan yang kian ketat.
Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli saat memberikan kuliah umum di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, Senin (16/2/2026). Ia menegaskan bahwa persaingan kerja saat ini tidak lagi cukup mengandalkan satu kompetensi.
“Untuk menang dalam persaingan lokal dan global, kita tidak cukup mengandalkan satu kompetensi. Be unique, be different, be a champion. Model kompetensi sudah bergeser,” ujar Yassierli dalam keterangan tertulisnya.
Menurut dia, perubahan teknologi dan dinamika ekonomi global mendorong pergeseran kebutuhan industri. Sejumlah sektor baru terus berkembang, seperti ekonomi digital dan kreatif, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), care economy, hingga ekonomi berkelanjutan. Kondisi ini menuntut tenaga kerja, khususnya generasi muda, untuk lebih adaptif.
Yassierli menilai cara pandang bahwa satu keahlian sudah cukup tidak lagi relevan. Ia menyebut sekitar 59 persen pekerja di dunia diperkirakan perlu mempelajari keterampilan baru agar tetap sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Perubahan tersebut juga tercermin pada model kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Jika sebelumnya seseorang cukup menjadi pakar di satu bidang, kini diperlukan kemampuan berlapis dan saling terhubung. Ia mencontohkan model T-shaped (mendalam di satu bidang dan memahami bidang lain), Pi-shaped (memiliki dua keahlian utama), hingga M-shaped atau multi-spesialisasi yang terintegrasi.
Untuk memperluas akses pengembangan keterampilan, Yassierli menyatakan Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat pelatihan vokasi yang adaptif. BLK diarahkan tidak hanya mengajarkan keterampilan konvensional, tetapi juga mengembangkan talenta yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini.
Ia menambahkan, konsistensi peningkatan kompetensi memerlukan growth mindset. Yassierli mengingatkan sekitar 50 persen jenis pekerjaan diprediksi akan berubah dalam 10 tahun ke depan, sehingga kemampuan untuk terus belajar ulang menjadi keharusan.
“Tantangan kita adalah pekerja yang tidak mau belajar hal baru. Padahal, growth mindset adalah kunci agar manusia bisa beradaptasi. Teruslah belajar di balai-balai kami,” katanya.
Selain soal kompetensi, Yassierli juga menyoroti terbukanya peluang di daerah. Ia menilai ekonomi digital tidak lagi terpusat di kota besar. Dengan sekitar 70 persen pengguna digital baru berada di daerah, Kabupaten Lahat dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan guna memperkuat ekosistem ketenagakerjaan serta pengembangan talenta di daerah.
“Permasalahan ketenagakerjaan tidak akan selesai hanya oleh satu kementerian. Pemerintah daerah harus menjadi penggerak utama,” pungkasnya. (*/Stp)
















Discussion about this post