JT.COM – Aliansi BEM SI Daerah Bengkulu menggelar aksi simbolik di depan Korem, Jalan Pembangunan, Selasa (31/3/2026).
Mahasiswa mendesak Tentara Nasional Indonesia fokus pada fungsi pertahanan dan tidak masuk ke ranah sipil.
Aksi ini sekaligus mengawal kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Mahasiswa menilai keterlibatan militer dalam ruang sipil berpotensi mengganggu kebebasan berpendapat.
Ketua BEM UNIHAZ Pajar Pratama Putra menegaskan pentingnya pembatasan peran militer.
“Kami mendesak TNI kembali ke barak dan tidak mencampuri urusan sipil, termasuk penegakan hukum dan ruang demokrasi,” tegasnya.
Ia menilai profesionalisme militer harus dijaga sesuai fungsi utama sebagai alat pertahanan negara.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyoroti pembatasan ruang gerak saat menyampaikan pendapat.
Presiden Mahasiswa UNIB M. Ghifar Alfarizsy menilai alasan wilayah militer tidak tepat.
“Jalan yang kami gunakan adalah fasilitas umum. Tidak seharusnya dibatasi,” ujarnya.
Mahasiswa menegaskan aksi berlangsung damai dan dilindungi konstitusi.
“Kami ingin demokrasi tetap terjaga. Militer harus kembali pada fungsi utamanya,” tegas Ghifar.
Aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap. Situasi terpantau kondusif.
Aliansi BEM SI Daerah Bengkulu memastikan aksi tidak berhenti di sini. Mereka berencana menggelar aksi lanjutan dengan massa lebih besar pada Rabu (1/4/2026).
Mahasiswa mengajak elemen masyarakat sipil untuk ikut bergabung mengawal isu kebebasan berpendapat dan penuntasan kasus kekerasan.
“Besok kami akan turun dengan massa lebih besar. Ini bentuk konsistensi perjuangan kami,” ujar salah satu perwakilan aksi.
Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal isu ini hingga ada kejelasan hukum dan jaminan kebebasan sipil dari negara. (Yl)
















Discussion about this post