Oleh : Rizki Mulia Siregar
Banjir kembali melanda berbagai wilayah di Pulau Sumatra. Air menggenangi rumah warga, jalan rusak, dan aktivitas sehari-hari terhenti. Banyak keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok yang paling rentan. Peristiwa ini bukan pertama kali terjadi, bahkan sudah berulang hampir setiap tahun.
Hujan deras memang menjadi pemicu, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Jika alam masih terjaga dengan baik, hujan seharusnya bisa diserap oleh tanah dan hutan. Kenyataannya, banyak kawasan hutan di Sumatra yang rusak. Pohon-pohon ditebang, lahan dibuka tanpa perhitungan, dan daerah resapan air terus menyempit. Ketika hujan turun, air langsung mengalir ke sungai dan menyebabkan banjir besar.
Aktivitas penambangan, termasuk penambangan ilegal, juga memberi jalur air besar. Lubang-lubang bekas galian dibiarkan terbuka, tanah menjadi gundul, dan sungai tercemar lumpur. Air sungai menjadi dangkal dan mudah meluap. Namun, persoalan ini sering ditutup-tutupi oleh pihak-pihak pemerintahan. Ketika banjir terjadi, penyebabnya jarang disebarkan secara jujur dan terbuka.
Korban paling besar selalu masyarakat kecil. Rumah mereka terendam, perabotan rusak, dan sumber penghasilan terhenti. Petani gagal panen, pedagang tidak bisa berjualan, dan buruh harian kehilangan pekerjaan. Setelah banjir surut, mereka harus memulai semuanya dari nol, sering kali tanpa bantuan dana yang cukup.
Pemerintah daerah dan pusat memang hadir saat bencana terjadi. Evakuasi dilakukan, posko pengungsian didirikan, dan bantuan logistik. Namun, penanganannya sering berhenti pada tahap darurat. Setelah air surut dan berita itu tidak lagi ramai, persoalan banjir pun kembali terjadi hingga kejadian serupa berulang.
Yang dibutuhkan bukan hanya bantuan sementara, tetapi perubahan cara mengelola alam. Aturan tentang lingkungan hidup harus ditegakkan dengan tegas. Aktivitas perusakan hutan dan tambang ilegal tidak boleh dibiarkan demi keuntungan segelintir pihak. Jika penegakan hukum lemah, maka banjir akan terus menjadi “langganan” tahunan.
Penulis adalah Mahasiswa Semester 3 – Prodi Ilmu Pemerintahan UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi














Discussion about this post