Oleh: Musri Nauli
Sedang asyik bekerja di depan laptop, menyusun bahan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, tiba-tiba masuk pesan WhatsApp. Sebuah foto terkirim dari DD Shineba. Gambar itu diambil di puncak Gunung Tambora.
Sekejap, ingatan saya melayang jauh. Lebih dari sembilan tahun lalu, saat kami mendaki Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat. Waktu itu tengah berlangsung Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH), atau Rapimnas Pimpinan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) tingkat nasional dan daerah. WALHI NTB bertindak sebagai tuan rumah.
Di luar agenda KNLH, para peserta yang terdiri dari Eksekutif Nasional, Dewan Nasional, Direktur WALHI Daerah, serta Dewan Daerah terbagi dua. Sebagian memilih menikmati wisata pantai seperti Gili Trawangan. Sebagian lainnya, termasuk saya, memilih tantangan: mendaki Gunung Tambora.
Tambora, salah satu gunung berapi paling bersejarah. Letusannya 200 tahun lalu mengguncang dunia. Abu vulkaniknya mencapai Eropa, menyebabkan kegelapan dan musim dingin berkepanjangan. Akibatnya, pasukan Napoleon Bonaparte tak mampu bergerak, dan Perancis mengalami kekalahan di berbagai medan perang.
Mataram kala itu ramai dikunjungi wisatawan, termasuk dari mancanegara, yang ingin mengikuti napak tilas letusan Tambora.
Dari peserta KNLH, hanya segelintir yang bersedia bergabung dalam pendakian. Saya ingat, hanya enam Direktur WALHI Daerah yang ikut: dari Jambi, Sumbar, Kalteng, Kalbar, Yogyakarta, dan Sulsel. DD mewakili Dewan Nasional, dan Mbak Yaya Kepala Departemen Advokasi mewakili Eksekutif Nasional. Sisanya tetap memilih pantai.
Menariknya, arah perjalanan bisa ditebak dari jenis tas peserta. Yang membawa koper atau tas tarik biasanya ke pantai. Sedangkan yang membawa ransel “carrier”, lengkap dengan perlengkapan mendaki, pasti ikut ke gunung.
Usai kegiatan resmi, rombongan pun terpecah. Mereka yang ke pantai sore harinya sudah mengunggah foto aktivitasnya. Sedangkan kami memulai perjalanan panjang, menyeberang dari Pulau Lombok ke Pulau Sumbawa sekitar 18–20 jam perjalanan, termasuk penyeberangan dengan kapal feri.
Saat menyeberang, Mbak Yaya sempat berkelakar, “Tenang, Ketua. Yang ke pantai, sore atau malam juga bakal kehabisan spot.” Kami tertawa. Memang tak banyak variasi di pantai.
Keesokan siangnya, kami tiba di kaki Gunung Tambora. Persiapan dilakukan. Kami menargetkan mencapai Shelter 1 untuk penyesuaian suhu dan menginap. Usai makan siang, kami lanjut ke Shelter 4 untuk berkemah, lalu membawa daypack ringan ke puncak.
Pendakian menuju puncak dimulai pagi-pagi sekali. Dan alhamdulillah, semua berhasil mencapai puncak.
Namun, perjalanan turun tidak semudah yang dibayangkan. Dengan rombongan besar, kami tak bisa turun bersama-sama. Maka dibentuk dua tim: satu tim langsung menuju Shelter 1 untuk memasang tenda dan menyiapkan logistik. Mbak Yaya dengan tegas memimpin tim ini.
Kami yang tersisa turun perlahan. Beberapa kawan mulai kelelahan, kaki tak lagi bisa diajak kompromi. Di Shelter 3, kami diskusi dan kembali membagi tim. Sebagian melanjutkan ke Shelter 1, sebagian memilih bertahan sambil menyusuri perlahan—dengan kemungkinan terjebak hingga Shelter 2.
Logistik dibagi ulang. Saya dan beberapa kawan memilih menjadi tim sapu belakang—tim sweeper.
Malam pun tiba. Hujan deras mengiringi langkah kami. Pelan-pelan kami terus berjalan. Saya menyemangati teman-teman. Yang penting tetap bergerak. Lebih baik lambat daripada harus ditandu.
Ketika akhirnya sampai di Shelter 1, kami lega luar biasa. Kak DD sudah mendirikan tenda dan menyiapkan makanan. Kami bergabung dengan tim yang lebih dulu sampai.
Mengingat kondisi fisik yang menurun drastis dan malam yang kian larut disertai hujan, kami sepakat untuk bermalam di Shelter 1. Logistik masih cukup untuk malam itu dan bekal esok hari.
Saat mengganti pakaian yang basah kuyup, datanglah rombongan dari bawah membawa tambahan logistik.
“Pesan dari Ibu Yaya, untuk kawan-kawan,” kata sang pengantar.
“Ibu Yaya juga bilang, kalau ada yang tak kuat jalan, kami siap menggotong. Itu pesan beliau.”
Kami tertegun. Padahal, logistik masih cukup. Secara logis, Mbak Yaya bisa saja beristirahat di Shelter 1. Namun ia memilih turun ke pos terakhir, memimpin koordinasi, bahkan bersiap naik kembali jika dibutuhkan untuk mengevakuasi kawan.
Perhatiannya bukan hanya pada dirinya, tapi pada keseluruhan tim. Ia memilih jalan yang lebih berat, hanya demi memastikan semua kawan aman.
Di situlah saya percaya: lapangan adalah tempat ujian sejati kepemimpinan. Apakah seseorang benar-benar pemimpin, atau hanya pemberi perintah yang tak ikut bekerja.
Mbak Yaya membuktikan, ia bukan hanya pemimpin. Ia penopang, penggerak, dan penjaga semangat tim.
Kisah ini, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah potret nyata dari kepemimpinan yang tulus. Kisah heroik di tengah petualangan, yang terlalu berharga untuk dilupakan.
Selamat jalan, Mbak Yaya.
Semoga damai di sisi-Nya.














Discussion about this post