JT.COM – APP Group melalui unit usahanya, PT Wirakarya Sakti (WKS), bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan.
Program ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni 2025 dan menjadi langkah konkret dalam mendukung pemerintah mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.
Seremoni pelepasan operasi berlangsung di Posko OMC, Bandara Sultan Thaha, Jambi, yang menjadi pusat koordinasi selama 10 hari pelaksanaan penyemaian awan menggunakan bahan higroskopis (garam).
Teknologi ini bertujuan meningkatkan potensi hujan, menambah cadangan air, dan menjaga kelembaban lahan di wilayah rawan kebakaran.
“Operasi dimulai sejak 10 hingga 19 Agustus 2025. Kemarin kami sudah menebar 1.600 kilogram garam, dan hari ini akan ada dua sorti penerbangan dengan jumlah yang sama. Ini adalah bagian dari dukungan TNI AU untuk membantu OMC di wilayah prioritas,” ujar Dansatgas Karhutla Brigjen TNI Heri Purwanto.
Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan, menambahkan bahwa setiap sorti membawa 800 kilogram garam dengan target wilayah lahan gambut di Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, dan Musi Banyuasin.
“Wilayah ini sangat rawan karena tinggi muka air tanah minus 60 hingga minus 80 sentimeter. Kondisi ini perlu diantisipasi agar kelembaban lahan terjaga dan kebakaran bisa dicegah,” kata Edison.
Direktur Utama PT Wirakarya Sakti, Didi Harsa, menegaskan bahwa dukungan terhadap OMC merupakan bagian dari strategi Integrated Fire Management yang telah dijalankan APP Group sejak 2021.
“Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan melindungi lingkungan, mencegah dampak kesehatan akibat kebakaran, dan mendukung target nol kebakaran,” ujarnya.
BMKG memastikan pemantauan cuaca, kelembaban tanah, dan pergerakan awan dilakukan setiap hari agar penyemaian awan tepat sasaran. Program ini juga berjalan di provinsi rawan karhutla lain, seperti Riau, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara. (Nhr)
















Discussion about this post