JT.COM — Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Rimbo Janduang, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, kian mengkhawatirkan.
Di tengah kawasan perbukitan yang dahulu hijau dan menjadi sumber kehidupan masyarakat, kini berdiri lubang-lubang tambang menganga, suara mesin dompeng meraung tanpa henti, serta aliran sungai berubah keruh kecokelatan.
Hasil penelusuran lapangan selama beberapa pekan terakhir menunjukkan, PETI di Rimbo Janduang bukan lagi aktivitas sembunyi-sembunyi.
Operasi tambang ilegal ini berjalan terbuka, terstruktur, dan diduga melibatkan modal besar. Alat berat keluar-masuk lokasi tanpa hambatan, sementara aktivitas penambangan berlangsung siang dan malam.
“Kondisi ini sudah lama terjadi. Mesin bekerja terus, sungai rusak, tapi tidak pernah ada tindakan nyata,” ungkap seorang warga Rimbo Janduang yang meminta identitasnya dirahasiakan, Kamis (5/2/2026).
Dampak PETI kini dirasakan langsung oleh masyarakat. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi sumber air minum dan irigasi berubah menjadi aliran lumpur pekat.
Lahan pertanian mulai kehilangan kesuburan, sementara risiko longsor dan banjir meningkat akibat hancurnya struktur tanah dan akar pepohonan.
“Air sudah tidak bisa kami pakai. Sawah kami ikut rusak. Kalau hujan deras, kami takut longsor,” kata warga lainnya dengan nada kecewa.
Warga menyebut telah berulang kali melaporkan aktivitas PETI ke tingkat kecamatan hingga aparat penegak hukum. Namun laporan tersebut dinilai tidak pernah ditindaklanjuti secara serius.
“Kami hanya dapat janji. Tidak ada penertiban. Alat berat tetap bekerja seolah kebal hukum,” tegasnya.
Skala aktivitas PETI di Rimbo Janduang menimbulkan dugaan kuat adanya jaringan tambang ilegal yang terorganisir.
Aktivitas ini tidak lagi mencerminkan penambangan rakyat tradisional, melainkan operasi besar dengan sistem distribusi hasil tambang yang rapi.
Tokoh pemuda Rimbo Janduang menilai lemahnya pengawasan menjadi celah bagi para pelaku untuk terus merusak lingkungan.
“Ini bukan kebetulan. Kalau tidak ada pembiaran, tidak mungkin alat berat bisa bebas beroperasi. Kami menduga ada pihak-pihak yang bermain,” ujar Ketua Forum Pemuda Rimbo Janduang dalam pernyataan bersama.
Sejumlah tokoh adat dan pemuda kini mulai bersatu mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas.
Mereka menuntut penutupan total seluruh lokasi PETI serta penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap para pelaku dan pihak yang terlibat.
“Negara tidak boleh diam. Kalau ini terus dibiarkan, Rimbo Janduang hanya akan mewariskan kerusakan untuk anak cucu kami,” tegas perwakilan tokoh adat.
Mereka juga menyatakan siap melakukan langkah-langkah sosial secara damai jika tidak ada tindakan konkret dari pemerintah dan aparat.
Ketika senja jatuh di Rimbo Janduang dan bayangan alat berat memanjang di bekas galian tambang ilegal, satu pertanyaan besar terus menggema di tengah masyarakat: sampai kapan eksploitasi ilegal ini dibiarkan, dan di mana peran negara saat alam serta kehidupan warga perlahan dihancurkan. (Dd)
















Discussion about this post